Minggu, 31 Juli 2016

BOCAH BERUSIA 8TH YANG TERUS BERJUANG UNTUK MELANJUTKAN HIDUPNYA.. BERIKUT PENJELASAANYA



Wafa bocah usia 8 th. asal Ampel Boyolali harusnya hanya fikirkan sekolahnya, bermain-main bersamaan bebrapa rekan di usia kanak-kanaknya. Namun, Wafa tidaklah demikian. Dia juga harus fikirkan beban hidupnya.

Hari Senin (25/7/2016) mendekati siang, Wafa Dhia Faiha Khairunnisa, 8, masih tetap ribet dengan buku-bukunya di dalam ruang kelas II, SDIT Annur Ampel, Boyolali.

Dia terlihat demikian senang saat belajar dan bermain dengan sebagian rekannya di sekolah. Seragam merah putih muslimah yang sedikit kebesaran, seolah menutupi beban hidup berat anak yatim asal Dusun Penthur, Desa Selondoko, Ampel.

Wafa, sapaannya, telah kehilangan ibunya sejak mulai 1, 5 th. lalu. Ibunya meninggal dunia dunia setelah dua bln. melahirkan adik Wafa, Ahmad Tsabiq Elfatin. Tengah ayahnya, Suyadi, 37, alami lumpuh keseluruhnya sejak mulai dua th. lalu karena jatuh dari pohon jati. Sang adik ikut neneknya di Simo, Boyolali.

Dalam kesendirian itu, Wafa juga sering menuangkan curahan hatinya pada sehelai kertas. “Bu, doakan Wafa, Wafa sudah menginginkan masuk kelas 1”, sekian tulis Wafa pada selembar kertas yang diketahui saudaranya di rumah.

“Dulu sering sekali berbagi lewat tulisan. Sekarang ini sudah ndak pernah mungkin saja saja sudah mengerti ibunya sudah tidak ada, ” kata bibi Wafa, Jamilah, 34, saat ikut serta pembicaraan dengan Solopos, Senin.

Wafa masih tetap punyai Mak Lah, sapaan Jamilah, yang menginginkan ngopeni keluarga Wafa. Namun, pendapatan Mak Lahtak seberapa, hanya Rp10. 000 hingga Rp15. 000/hari. Walaupun sesungguhnya Mak Lah sekarang ini jadi tumpuan untuk Wafa, ayahnya,
dan nenek Wafa yang bernama Suli. Adik Wafa, Ahmad, bahkan terpaksa sekali harus terpisah dari mereka karena dirawat keluarga almarhumah ibunya di Simo.

Merekapun kadang-kadang demikian bergantung dari belas kasihan sebagian tetangga. “Alhamdulillah, banyak tetangga yang peduli dengan Wafa, ” kata Mak Lah, saat dijumpai Solopos. com, Senin.

Di usia sekecil itu, Wafa sering disibukkan dengan pekerjaan dirumah. Seperti memasak untuk bapaknya atau untuk dirinya, membantu membereskan baju, menanak nasi, dll.

“Kalau pas ndak ada Mak Lah, saya masak sendiri. Masak bayam. Beli bayam pakai uang sendiri, di beri sama orang, ” tutur Wafa, yang mengaku sudah tidak ingat dengan muka ibunya.

Saat tidak ada uang, Wafa juga paham dirinya harus bersabar. Dia belum bisa membantu ayahnya mencari uang. “Nggak ada uang ya ndak makan dahulu. ”Kalau telah sekian, Mak Lah tentu akan bergegas mencari utang ke tetangga.

Mujur, Wafa masih tetap bisa melanjutkan sekolah setelah peroleh banyak uluran tangan dari perkumpulan wali murid rekanan sekelasnya. Pihak sekolah menggratiskan semuanya biaya sekolah Wafa.

Tengah untuk kepentingan sekolah yang lain seperti seragam dan makan siang di sekolah sudah ditanggung sepenuhnya oleh perkumpulan wali murid kelas II.

“Perkumpulan wali murid juga minta agar Wafa tidak dibedakan terlebih terkait fasilitas belajar. Jika memang perlu cost, akan ditanggung bersamaan oleh perkumpulan wali murid, ”kata Kepala SDIT Annur, Selondoko, Ampel, Erma Yulianti.

Di kelas, Wafa termasuk juga anak yang pandai sampai banyak wali murid yang simpatik. “Waktu kelas I kemarin, dia dapat rangking V di kelas. ”

Penderitaan Wafa makin berat. Kecuali lumpuh, ayahnya baru saja lakukan operasi batu empedu di RSUD Pandanarang Boyolali sampai butuh biaya yang cukup banyak.

Ketua RT 001 Dusun Penthur, Desa Selondoko, Ampel, Sudardi, prihatin dengan kondisi keluarga Suyadi. Beberapa orang Dusun Pentur suka-rela mengumpulkan donasi tiap-tiap selapan untuk membantu kepentingan hidup keluarga Wafa.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : BOCAH BERUSIA 8TH YANG TERUS BERJUANG UNTUK MELANJUTKAN HIDUPNYA.. BERIKUT PENJELASAANYA

0 komentar:

Posting Komentar